Oleh Halimah

Setelah berita penyerangan tentara Israel terhadap relawan pembawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza yang tergabung dalam Armada Kebebasan yang menewaskan sekitar 10 orang. Kawan-kawan di FLP menghimbau untuk menuliskan sesuatu tentangmu, Gaza!

Aku sedikit gamang. Kemudian diam, memikirkan apa yang akan aku tulis. Terlalu banyak bahan yang terpapar jelas di media massa. Banyak hal yang bisa ditulis, sementara aku tak tahu apa yang akan aku sampaikan.

Jangan lupa menulis!” Batinku selalu memberikan alarm. Padahal biasanya aku mampu membuat jari jemariku menari dengan lincah untuk sesuatu yang aku pikirkan. Tapi kali ini untuk Gaza, aku seperti terbungkam di dalam gelap. Tak ada jalan yang bisa aku lakukan untuk memulai satu, dua kata. Ternyata saat ini aku tak mampu.

Gaza…

Aku tak mampu menuliskan tentangmu. Aku tak mampu merefleksikan kesedihanku. Aku juga tak mampu memberikan bait-bait apa yang sebenarnya aku rasakan padamu. Aku seperti menjadi tak berarti dihadapanmu.

Gaza…

Aku melihat seorang aktivis wanita. Dia datang kepadamu dengan penuh senyum, sementara dia telah berwasiat baik tentang anak-anaknya maupun harta warisannya, kelak jika dia terkubur di tanahmu.

Gaza…

Aku malu. Sungguh aku malu. Bukan padamu. Tapi malu pada Ilahi. Karena getaran rasaku tidak sedalam orang-orang yang peduli padamu. Bahkan untuk nyawanya pun mereka seakan tak peduli, karena semuanya untukmu.

Gaza…

Seorang aktivis ( yang bersama suaminya ) berada di barisan Armada Kebebasan untuk Gaza, dalam rangka membawa bantuan kemanusiaan ke kotamu. Sang wanita itu menulis tentangmu. Aku membaca tulisannya dengan judulnya, “ Gaza tak membutuhkanmu!”

Benar! Tulisan itu memang benar. Kamu memang tidak membutuhkan kami. Kamu sedikit pun tidak meminta kami untuk datang membantumu. Kamu memang tak butuh siapa-siapa. Karena kamu memang milik Allah, yang disediakan untuk orang-orang yang memang mempunyai getaran iman yang mantap, untuk selalu berdekatan hatinya padamu.

Gaza…

Aku sangat malu. Karena dengan berbagai macam alasan aku mengatakan, “ hanya do’a yang bisa aku lantunkan untukmu.”

Padahal kamu ada, agar kami yang mengaku beriman dapat berbuat lebih dari sekedar do’a. Keberadaanmu yang disediakan Allah Swt. untuk dapat membuat kami merealisasikan, “ bila saudara kita sakit, maka kita pun merasakannya.”

Gaza…

Keberadaanmu membuat banyak syuhada. Karenamu telah teruji keikhlasan seorang hamba kepada Rabb-Nya. Karenamu banyak harta menjadi jalan pemiliknya meninggalkan dunia ini dengan tersenyum.

Gaza…

Harapanku semoga dihari-hari selanjutnya, aku mampu melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar do’a untukmu, karena memang aku membutuhkanmu.

Sengata, 3 Juni 2010

Halimah Taslima

Forum Lingkar Pena ( FLP ) Cab. Sengata

halimahtaslima@gmail.com