Arus & Laut di Indonesia

Arus merupakan pergerakkan massa air laut yang disebabkan oleh angin dan cuaca. Hal ini terlihat jelas pada fenomena alam pada bulan yang memasuki musim hujan. Indonesia merupakan kawasan yang berada antara samudra hindia dan pasifik. Energi yang dihasilkan pada kecepatan arus laut sebesar 12 mph (mile per hour) sebanding dengan kecepatan massa udara atau angin yang bergerak sebesar 110 mph. Sehingga arus laut merupakan sumber energi alternatif yang sangat potensial.

Laut merupakan air yang menutupi permukaan tanah yang sangat luas dan umumnya mengandung garam dan berasa asin. Biasanya air mengalir yang ada di darat akan bermuara ke laut. Adapun jenis laut antara lain (Perairan Darat dan Laut; Mata Pelajaran Geografi Kelas I; Nomor Modul : Geo.I.08 ; Penulis : Drs. Waldopo, M.Pd.) :

A.  Berdasarkan sebab terjadinya laut dibagi menjadi :

  1. Laut Ingresi, adalah laut yang terjadi karena adanya penurunan tanah di dasar laut. Oleh karena itu laut ini juga sering disebut laut tanah turun. Penurunan tanah di dasar laut akan membentuk lubuk laut dan palung laut. Lubuk laut atau basin adalah penurunan di dasar laut yang berbentuk bulat. Contohnya lubuk Sulu, lubuk Sulawesi, lubuk Banda dan lubuk Karibia. Sedangkan Palung Laut atau trog adalah penurunan di dasar laut yang bentuknya memanjang. Contohnya palung Mindanau yang dalamnya 1.085 m, palung Sunda yang dalamnya 7.450 m, palung Jepang yang dalamnya 9.433 m serta palung Mariana yang dalamnya 10.683 m (terdalam di dunia).
  2. Laut Transgresi (laut yang meluas), terjadi karena adanya perubahan permukaan laut secara positif (secara meluas). Perubahan permukaan ini terjadi karena naiknya permukaan air laut atau daratannya yang turun, sehingga bagian-bagian daratan yang rendah tergenang air laut. Perubahan ini terjadi pada zaman es. Contoh laut jenis ini adalah laut Jawa, laut Arafuru dan laut Utara.
  3. Laut Regresi, adalah laut yang menyempit. Penyempitan terjadi karena adanya pengendapan oleh batuan (pasir, lumpur dan lain-lain) yang dibawa oleh sungaisungai yang bermuara di laut tersebut. Penyempitan laut banyak terjadi di pantai utara pulau Jawa.

B.  Menurut letaknya, laut dibedakan menjadi tiga yaitu laut tepi, laut pertengahan dan laut :

  1. Laut tepi (laut pinggir), adalah laut yang terletak di tepi benua (kontinen) dan seolah-olah terpisah dari samudera luas oleh daratan pulau-pulau atau jazirah. Contohnya laut Cina Selatan dipisahkan oleh kepulauan Indonesia dan kepulauan Filipina.
  2. Laut pertengahan, adalah laut yang terletak di antara benua-benua. Lautnya dalam dan mempunyai gugusan pulau-pulau. Contohnya laut Tengah di antara benua Afrika-Asia dan Eropa, laut Es Utara di antara benua Asia dengan Amerika dan lain-lain.
  3. Laut pedalaman, adalah laut-laut yang hampir seluruhnya dikelilingi oleh daratan. Contohnya laut Kaspia, laut Hitam dan laut Mati. Berdasarkan kedalamannya laut dibedakan menjadi 4 wilayah (zona) yaitu: zona Lithoral, zona Neritic, zona Bathyal dan zona Abysal.
    1. Zona Lithoral, adalah wilayah pantai atau pesisir atau shore. Di wilayah ini pada saat air pasang tergenang air dan pada saat air laut surut berubah menjadi daratan. Oleh karena itu wilayah ini sering juga disebut wilayah pasang-surut.
    2. Zona Neritic (wilayah laut dangkal), yaitu dari batas wilayah pasang surut hingga kedalaman 150 m. Pada zona ini masih dapat ditembus oleh sinar matahari sehingga pada wilayah ini paling banyak terdapat berbagai jenis kehidupan baik hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Contohnya laut Jawa, laut Natuna, selat Malaka dan laut-laut di sekitar kepulauan Riau.
    3. Zona Bathyal (wilayah laut dalam), adalah wilayah laut yang memiliki kedalaman antara 150 m hingga 1800 m. Wilayah ini tidak dapat tertembus sinar matahari, oleh karena itu kehidupan organismenya tidak sebanyak yang terdapat di wilayah Neritic.
    4. Zone Abyssal (wilayah laut sangat dalam), yaitu wilayah laut yang memiliki kedalaman di atas 1800 m. Di wilayah ini suhunya sangat dingin dan tidak ada tumbuh-tumbuhan. Jenis hewan yang dapat hidup di wilayah ini sangat terbatas.

Untuk lebih memahami penjelasan di atas perhatikan gambar berikut ini :

Gambar 1. Zone (wilayah) laut (Makmur Tanujaya, p.272)

Tabel 1. Daftar nama, luas dan kedalaman laut di Indonesia

No Nama Laut Luas (km2) Kedalaman (m)
1 Laut Arafura 650.000 3.680
2 Laut Banda 500.000 7.440
3 Laut Flores 3.079,32 5.123
4 Laut Indonesia 5.800.000 1.200
5 Laut Jawa 310.000 1.800
6 Laut Maluku 527.191 125.000
7 Laut Sawu 350.000 3.497
8 Laut Seram 49.058 5.000
9 Laut Sulawesi 280.000 6.200
10 Laut Timor 610.000 3.300

Laut Arafura atau Laut Arafuru adalah wilayah perairan yang berada di antara Australia dan Pulau Papua, di Samudra Pasifik. Luasnya adalah 650.000 km² dan kedalaman maksimalnya adalah 3,68 km.

Laut Banda adalah sebuah laut yang terletak di Kepulauan Maluku, Indonesia. Laut berukuran 500×1000 km ini terpisah dari Samudra Pasifik oleh berates-ratus pulau, serta Laut Halmahera dan Seram. Pulau-pulau yang berbatasan dengan Laut Banda antara lain : SulawesiBuru, Ambon, Seram, kepulauan Kai, Kepulauan Aru, Kepulauan Tanimbar, Kepulauan Barat Daya, dan Timor. Di sisi ujung laut ini terdapat banyak pulau berbatu, berbeda dengan di bagian tengahnya. Kepulauan Banda terletak di tengah ini. di sebelah barat,

Laut Flores adalah laut yang terdapat di sebelah utara Pulau Flores. Laut ini juga menjadi batas alami antara Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan Provinsi Sulawesi Selatan. Di sebelah utara Laut Flores terdapat gugusan pulau-pulau kecil, diantaranya Kepulauan Bonerate dan Pulau Kalaotoa. Laut Flores memiliki kedalaman hingga 5.123 meter.

Laut Jawa adalah perairan dangkal dengan luas kira-kira 310.000 km2 di antara Pulau Kalimantan, Jawa, Sumatera, dan Sulawesi di gugusan kepulauan Indonesia. Laut ini relatif muda, terbentuk pada Zaman Es terakhir (sekitar 12.000 tahun Sebelum Masehi) ketika dua sistem sungai bersatu. Di barat lautnya, Selat Karimatayang menghubungkannya dengan Laut China Selatan. Di bagian barat daya, laut ini terhubung ke samudra Indonesia melalui selat Sunda. Pada masa lalu, Selat Karimata dan Laut Jawa ini dikenal pula sebagai Laut Sunda.

Laut Maluku terletak di barat Samudra Pasifik yang terletak di dekat Provinsi Maluku, Indonesia. Laut ini membatasi Laut Banda hingga selatan dan utara Laut Sulawesi. Pulau-pulau yang membatasi laut ini adalah kepulauan Indonesia seperti Halmahera, Seram, Buru, dan Sulawesi (Celebes).

Laut Sawu adalah laut yang terdapat di antara Pulau Sumba, Pulau Sawu, Pulau Rote, Pulau Timor, dan Pulau Flores. Secara administratif, Laut Sawu termasuk wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Laut Sawu memiliki kedalaman hingga 3.497 meter dan mencakup area seluas sekitar 3,5 juta hektare.

Laut Sulawesi di barat Samudra Pasifik dibatasi oleh Kepulauan Sulu, Laut Sulu, dan Pulau Mindanao, Filipina, di utara, di timur oleh rantaiKepulauan Sangihe, di selatan oleh Sulawesi, dan di barat oleh Kalimantan, Indonesia. Laut ini berbentuk basin besar, dan kedalamnya mencapai 6.200 m. Memanjang 420 mil (675 km) utara-selatan dengan 520 mil (837 km) timur-barat dan wilayah permukaan totalnya 110.000 mil persegi (280.000 km persegi). Laut ini membuka ke barat daya melalui Selat Makassar ke Laut Jawa.

Laut Timor (Bahasa Portugis : Mar Timor) ialah perpanjangan Samudera Hindia yang terletak antara pulau Timor, kini terbagi antara Indonesia dan Timtim, dan Northern Territory Australia. Di timur berbatasan dengan Laut Arafura, secara teknis perpanjangan Samudera Pasifik. Laut Timor Sea memiliki 2 teluk kecil di pesisir Astralia utara, Teluk Joseph Bonaparte dan Teluk van Diemen. Kota Australia Darwin ialah satu-satunya kota besar yang terletak di tepi laut adjoin. Laut ini memiliki luas 480 km (300 mil), meliputi darah sekitar 610.000 km persegi (235.000 mil persegi). Titik terdalamnya ialah Palung Timor di utara laut ini, yang mencapai kedalaman 3.300 m (10.800 kaki). Bagian lainnya lebih dangkal, dengan rata-rata kedalaman yang kurang dari 200 m (650 kaki). Merupakan tempat utama badai tropis dan topan.

Enclosure di Jepang

Enclosure adalah suatu proses budidaya yang digunakan pada perairan terbuka dan diharapkan luaran yang dapat meningkatkan produktivitas perairan. Penyekatan yang dilakukan pada budidaya ikan ini adalah dengan membuat lingkungan yang terkontrol pada perairan terbuka seperti penyekatan menggunakan kayu atau bambu sehingga ikan yang dikultur tidak lari ke perairan terbuka. Metode pemanenan dari budadaya ini adalah dengan menggiring ikan ke arah yang sempit sehingga ikan dapat dipanen dengan serempak. Selain itu, menggunakan kapal yang ditarik dari dari ujung penyekatan hingga ke hilir perairan. Ikan yang dibudidayakan bukan ikan yang hidup di dasar perairan sehingga kapal yang digunakan untuk menangkap ikan tersebut tidak merusak karang ataupun hewan yang hidup di karang.

Enclosure tertua di Jepang adalah enclosure ikan ekor kuning seluas 27 ha di Adoike, dekat Takamatsu di inland sea, telah berumur 50 tahun. Enclosure ini memiliki shore embankments dan dua buah sluice gates. Ada beberapa pen lainnya yang terdapat di nland seapen, dengan 100 m embankment at one end dan 350 m piled net barrier on the other. (South-west Coast of Japan), dimana suhu laut hangat dan lebih kondusif. Di Hitsuishi, sebuah area seluas 7,2 ha diantara dua pulau dijadikan sebuah

Area terbesar terdapat di Matsumigauru yaitu 120 ha, yang ditutup dengan sebuah net barrier yang panjangnya 300 m, di Danau Hamaka. Enclosed bay ini digunakan sebagai ranch, bukan sebagai farm. Ikan ekor kuning, puffer fish, dan sea bream dibudidayakan di sini. Ada beberapa fish enclosure lainnya di Ieshima, Megishima, dan Tanowia.

Gambar 2. Enam zona yang mungkin dijadikan sebagai cage culture pada coastal waters (1-shore; 2-intertidal; 3-publittoral; 4-surface floating; 5-mid water; dan 6-seabed) (Milne, 1979)

Gambar 3. Tipe Enclosure

Produksi marikultur di Jepang pada tahun 1973 adalah 83.800 ton, dimana hasil terbanyak diperoleh dari sistem pen culture. Ikan ekor kuning (Seriola quinqueradiata), red sea bream (Pagrus major), file fish (Monocanthus cinhifer), dan rock fish (Sebaste mamoratus) adalah spesies utama yang dibudidayakan. Akan tetapi 95% dari produksi adalah ikan ekor kuning, sehingga budidaya ikan ekor kuning considered to be the most representative type of coastal fish culture di Jepang (Fujiya, 1979).

rfLINE 221109