I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Vaksin merupakan salah satu sarana untuk mencegah penyakit pada makhluk hidup, manusia dan hewan. Vaksin bekerja menstimulus sistem kekebalan spesifik pada manusia maupun hewan, termasuk pada ikan. Vaksin merupakan sediaan antigen dari mikroorganisme yang dilemahkan maupun dimatikan. Pembuatan vaksin harus memenuhi beberapa syarat; pertama, vaksin harus aman yang artinya vaksin tersebut tidak boleh menimbulkan penyakit pada ikan uji; kedua, vaksin harus menimbulkan kekebalan terhadap ikan uji; ketiga, vaksin harus protektif yang artinya vaksin melindungi ikan dari patogen. Vaksin yang protektif dapat dilihat dari relative percent survival-nya (RPS).

Vaksin pada budidaya ikan dapat diaplikasikan melalui penyuntikan pada ikan, perendaman, serta penyemprotan pada pakan yang diberikan pada ikan tersebut. Pengaplikasian tersebut masih terus dikembangkan hingga saat ini, sehingga peluang untuk mendalami bidang kesehatan ikan terutama pengembangan vaksin masih terbuka lebar.

1.2 Tujuan

Praktikum ini bertujuan agar praktikan dapat membuat vaksin yang dimatikan dari bakteri dan mengaplikasikannya untuk meningkatkan sistem ketahanan humoral pada ikan.

II. METODE KERJA

2.1 Waktu dan Tempat

Praktikum preparasi vaksin konvensial dilaksanakan pada hari Senin, 23 Maret 2009 pukul 15.00-18.00 WIB dan pengamatan hari Selasa, 24 Maret 2009 bertempat di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

2.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan yaitu bunsen, korek api, ose, tabung reaksi, rak tabung, erlenmeyer, vortex, sentrifuse, penangas air, microtipe dan mikropipet. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan yaitu alkohol 70%, sediaan murni Aeromonas hydrophila, agar miring TSA, formalin 0.8%, dan PBS.

2.3 Prosedur Kerja

Prosedur kerja heat killed vaccine yaitu sediaan murni Aeromonas hydrophila (AH) dipipet 1 ml dengan mikropipet. Sediaan murni AH tersebut kemudian dimasukkan ke dalam microtipe dan di-sentrifuse 3000 rpm selama 10 menit. Supernatan hasil sentrifuse dibuang dan natan yang mengendap dicuci dengan PBS sebanyak 1 ml, kemudian disuspensikan dengan bentuan vortex selama 2-3 menit. Sentrifuse kembali dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit, supernatan hasil sentrifuse dibuang dan natan yang mengendap dicuci dengan PBS sebanyak 1 ml, kemudian campuran tersebut kembali disuspensikan dengan vortex selama 2-3 menit. Natan yang disuspensi tersebut dipanaskan 60oC selama 30 menit.

Natan kemudian dicuci dengan PBS sebanyak 1 ml, dan disuspensikan (vortex) 2-3 menit. Sentrifuse kembali 3000 rpm selama 10 menit, natan dicuci dengan PBS 1 ml dan disuspensikan. Heat killed vaccine didapatkan, kemudian dilakukan uji viabilitas terhadap vaksin tersebut. Gores pada agar miring dan inkubasikan selama 18 jam, kemudian pertumbuhan Aeromonas hydrophila diamati.

Prosedur kerja formalin killed vaccine yaitu, sediaan murni Aeromonas hydrophila (AH) dipipet 1 ml dengan mikropipet. Sediaan murni AH tersebut kemudian dimasukkan ke dalam microtipe, dan di-sentrifuse 3000 rpm selama 10 menit. Supernatan hasil sentrifuse dibuang dan natan yang mengendap dicuci dengan PBS sebanyak 1 ml, suspensikan dalam PBS dengan bantuan vortex selama 2-3 menit. Sentrifuse kembali dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit, supernatan dibuang dan natan dicuci dengan PBS 1 ml, suspensikan (vortex) selama 2-3 menit. Formalin ditambahkan sebanyak 0.8% atau 8µm. sentrifuse kembali 3000 rpm 10 menit. Natan kemudian dicuci dengan PBS sebanyak 1 ml, dan disuspensikan 2-3 menit. Formalin killed vaccine didapatkan, kemudian dilakukan uji viabilitas pada vaksin tersebut. Gores pada agar miring dan inkubasikan selama 18 jam, kemudian pertumbuhan Aeromonas hydrophila diamati.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Tabel 1. Hasil pengamatan Aeromonas hydrophila pada agar miring TSA

Perlakuan

Kelompok

Kontaminan

Pertumbuhan AH

Heat Killed Vaccine (HKV)

1

++++

3

++++

5

++++

Formalin Killed Vaccine

2

+++

4

+

+++

6

++++

Keterangan : – = Tidak adanya cendawan/bakteri

+ = Sedikit sekali adanya cendawan/bakteri

++ = Sedikit adanya cendawan/bakteri

+++ = Banyak adanya cendawan/bakteri

++++ = Banyak sekali adanya cendawan/bakteri

3.2 Pembahasan

Penggunaan vaksin merupakan salah satu upaya yang memungkinkan untuk diterapkan dalam pengendalian penyakit virus. Sebagaimana dikemukakan Yasumoto et al. (2006) dalam Santika et al. (2008) bahwa vaksinasi merupakan tindakan memasukkan antigen ke dalam tubuh ikan untuk memicu sistem pertahanan tubuh secara spesifik. Vaksin merupakan sediaan antigen yang didapat dari mikroorganisme patogen yang dilemahkann atau dimatikan, dan menimbulkan ketahanan humoral pada ikan. Patogen yang digunakan pada praktikum ini adalah Aeromonas hydrophila.

Vaksin merupakan suatu produk biologis yang terbuat dari kuman, komponen kuman, atau racun kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan yang berguna untuk merangsang timbulnya kekebalan tubuh seseorang. Vaksin, apabila diberikan kepada seseorang, akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu (Fitri, 2007). Aeromonas hydrophila merupakan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit yang dikenal dengan Motile Aeromonas Septicemia (MAS), Hemorrhagic Septicemia dan penyakit ulcer (Anonimous, 2008).

Formalin berasal dari larutan formaldehid yang dicampur air dengan perbandingan kadar 30-40% (Iskandar, 2007). Formalin mengandung metanol dan berfungsi sebagai stabilisator serta disinfektan. Formaldehid mampu membunuh bakteri dengan membuat jaringan dalam bakteri mengalami dehidrasi (kekurangan air), sehingga sel bakteri akan kering dan membentuk lapisan baru di permukaan. Artinya formalin tidak hanya membunuh bakteri, tetapi juga menghancurkannya.

Sample vaksin pada heat killed vaccine (HKV) menunjukkan bahwa Aeromonas hydrophila tidak tumbuh, hal ini berarti HKV efektif digunakan dalam pembuatan killed vaccine untuk Aeromonas hydrophila. Vaksin ini spesifik untuk Aeromonas hydrophila, namun kontaminan tetap tumbuh yang menandakan bakteri lain dapat tumbuh jika vaksin yang digunakan hanya vaksin ini. Kontaminan yang tumbuh tersebut juga dikarenakan prosedur pengerjaan yang kurang aseptik selama praktikum. Formalin killed vaccine (FKV) menunjukkan kontaminan bakteri lain dan pertumbuhan Aeromonas hydrophila banyak. Formalin yang diharapkan dapat membunuh bakteri tersebut tidak bekerja optimal. Hasil ini kurang sesuai dengan pendapat Iskandar (2007) yang menyatakan bahwa formalin dapat membunuh bakteri. Hal ini dapat dikarenakan dosis dari formalin yang digunakan terlalu kecil. Sehingga, kurang berpengaruh terhadap tumbuhnya bakteri kontaminan dan Aeromonas hydrophila.

Hasil tersebut mengakibatkan prosedur uji viabilitas vaksin tidak dapar dilanjutkan, sehingga tidak dapat diketahui bagaimana respon tubuh terhadap serangan virus / bakteri / pathogen. Namun, upaya pengembangan vaksin dengan cara inaktivasi (mematikan) pathogen yang berasal dari inang / ikan yang terserang dikenal dengan istilah autovaksin telah dilakukan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT Sukabumi); pada TA. 2007 telah diperoleh konsentrasi bahan autovaksin yang berpotensi menimbulkan kekebalan terhadap serangan KHV. Kegiatan vaksinasi skala laboratorium tahap II (TA. 2008) merupakan kelanjutan dari kegiatan vaksinasi tahun 2007 untuk memperoleh formulasi bahan vaksin yang dapat (mudah) diaplikasikan untuk pengendalian KHV. Upaya perbaikan teknik vaksinasi yang dilakukan adalah berupa teknik vaksinasi secara perendaman dan penerapan tahapan vaksinasi secara priming dan booster (Santika et al., 2008).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Vaksin merupakan salah satu sarana penanggulangan penyakit pada ikan. Vaksin diambil dari patogen tertentu dan mampu menimbulkan ketahanan humoral (spesifik) pada ikan. Pada praktikum pembuatan (preparasi) vaksin kali ini, pembuatan vaksin dengan metode HKV (heat killed vaccine) dianggap lebih efektif dibandingkan dengan metode FKV (formaldehid killed vaccine) untuk Aeromonas hydrophila.

4.2 Saran

Praktikum selanjutnya diharapkan dapat menggunakan bakteri yang lebih beragam dengan dosis formalin yang dibedakan, sehingga dapat diketahui tingkat efektifitas penggunaan formalin dalam pembuatan vaksin metode FKV.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2008. Aeromonas hydrophila. www.akuatika.net [24 Maret 2009].

Fitri, P.F. 2007. Penyimpanan Vaksin. www.waspada.co.id [24 Maret 2008].

Iskandar, S. 2007. Formalin. http://www.chem-is-try.org [22 Maret 2008].

Santika, A. et al. Vaksinasi Ikan Mas untuk Meningkatkan Daya Tahan Tubuh terhadap Infeksi Koi Herpes Virus (KHV). http://www.bbpbat.net [30 Maret 2009].