Bukit Langkisau

Tinggalkan komentar

BismiLlah,…

waaaaaaaaaaaaaaaa… dah lama bgt g buka wordpress… #judulnyaKANGEN😀
hmmm… mau ngapain yak? hmm… oke deh, gue kasi oleh2 deh..

ini foto pas gue lagi maen ke Pantai Carocok – Painan, Kab. Pesisir Selatan –  SUMBAR🙂
kesana bareng temen2, kebetulan lagi pada di Padang (alhamduliLlah seadanya aja, maklum udah pada di luar kandang.. hihihih…)
LANGKISAU
Kiri ke Kanan: Ramon, Ruri, Fahd, Gue😀, Hamdan, and Ninil (adeknya Hamdan)
at Bukit Langkisau (Painan) 22-Jan-2014

NB: mudah2an bisa kumpul2 lagi ya bro..😀
see yaa.. #dah dulu yoo…

 

Salam, rfline120714[at]kraksaan

Aquaculturist ’43

Tinggalkan komentar

48 hari kemudian

Tinggalkan komentar

Bismillah..

 

Dimana ini? g salah lagi ini masih satu spot yg jadi bagian dari Perpustakaan Pusat IPB, LSI. Hmm.. kalo hitungan ini g salah, memang sudah 48 hari yg lalu penelitian ku utk penyelesaiaan tugas akhir (skripsi) selesai. Tapi urusan g sampai disana, yang namanya skripsi g mungkin lah ujug2 selesai dengan selesainya penelitian.. hehe *ituhanyamimpibos…😀
Urusannya sekarang adalah rangkaian kata, kalimat, paragraf, sub-bab, dan bab itu sendiri yang menuntut dirangkai oleh sang empunya hajat. Kasihan mereka (rangkaian kata itu) menemui sang empunya (aku) yg sepertinya masih harus berbagai hati dengan kesenangan2nya yg lain. hufh.. Padahal udah jelas bahwa masanya di kampus sudah mendekati ambang batas. hehe *parah
Yaaa,.. sepertinya aku yg harus lebih bersabar dengan kesenangan lain itu. Betapa tidak, bahwa meyelesaikan skripsi dan studi adalah kewajiban, aku sadar. Bahwa orang tua mengamanahkan untuk segera lulus, aku selalu ingat. Bahwa banyak hal lain yang harus dikerjakan dan menunggu kontribusi, aku pun paham. Ya,.. mengalah dengan kesenangan diri sendiri memang salah satu oerang besar yg menuntut kesabaran besar pula utk mencapai tujuan yg lebih besar lagi.
So,.. seperti hari ini, ku kembali azzam-kan bahwa hari2 kan datang hanya akan diisi dengan pemikiran dan tindakan tentang penyelesaiaan tugas akhir ini. Dan apapun tantangan itu, “Ingatlah wahai diri bahwa kau punya Allah Yang Maha Tahu dan Ia Pemilik Segala Daya”. Jangan berhenti,.. teruskan hingga tuntas. Barokah Allah slalu menanti orang2 yang menuntut ilmu dan mengamalkannya.
Semoga azzam ini tidak menguap disapa malam, tidak lekang diterik siang.. sampai bertemu di penghujung jalan kelulusan.. ^_^

Dan tidak lupa teman, ku mohonkan slalu do’a darimu yg selalu menjadi inspirasiku.. InsyaAllah Ia slalu membersamai kita, setiap saat setiap waktu..

 

Perpus LSI
Dramaga,140612

kembali (setelah bulan ke-14)

1 Komentar

Image

Alhamdulillah,.🙂
kata yang kembali keluar pagi ini, bukan hanya krn “saudara kami” Pandu -yg sudah gw kenal sejak tingkat satu kuliah di IPB (krn pas TPB dulu kamar kita seberang2an)- mau melangsungkan akad nikah pagi ini, tetapi juga krn tanggal ini tu tepat 14 bulan gw berkutat dengan penelitian yg bakal dipake buat nyusun skripsi (tugas akhir) sbg syarat penyelesaian studi di FPIK IPB utk gelar S.Pi (yeaahhh,, AllahAkhbar yg masih ngasih gw semangat ini) thank yaa Robb. dan ending perjalanan gw dengan penelitian ini makin terlihat. (takbir lagi,, AllahuAkhbar!!!)

hmm.. iya, krn g gampang buat gw bisa terus “diving” di area research ini (mana bukan proyek, tekor bisa) apalagi dengan pertanyaan sejenis; “kapan sidang kak?” kalo ketemu adek tingkat di kampus ato di jalan; “ente kapan kak?” pas lagi ngasi selamat sama temen atoi adek tingkat yg di-wisuda; “kapan seminar kak?” kata anak2 yg abis ikutan seminar tmn2nya; ya gitu2 deh,. nga mudah memang, tapi selalu ada penyikapan yg bijak buat hal2 yg kita rasa berat. inget ini ga; “dalam tiap kesulitan selalu ada kemudahan”. dan tau g, gw berusaha percaya dan membuktikannya. buat elu smw pesen gw, “silahkan buktikan!”. just it. utk smw masalah yg elu hadapi, dengan penyikapan2 terbaik tentunya.

kembali, memang syukur g boleh lepas dari bibir dan hati kita. selayaknya semua keluar juga jadi laku (amal) yg terbaik yg bisa kita kasi buat sekitar kita biar jadi manfaat. g mengharap sesuatu berlebih, cuma bwt sekelumit Rahmat-Nya itu cukup. gmn nga, kita g pernah tau sampai kapan kita begini; dalam keadaan sehat wal afiat, bisa makan cukup, mau jalan kaki masih kuat, mau napas ga perlu beli oksigen, mau tidur pun masih bisa nyenyak. SAMPAI KAPAN? SIAPA YANG BISA JAMIN? kalo pas kita tidur nanti mlm, kita masih bisa bangun mlm buat QL ato bisa bangun kesiangan abis mlm tadi, SIAPA YANG BIAS JAMIN? g ada, kecuali Dia. jadi mo buat alasan apa lagi semua ini kecuali untuk Dia. biar pas kita g dlm kondisi merasa mendapat naungan, kita masih berani meminta sesuatu sama Dia Sang Maha Penolong. Alhadulillah,, yg masih ngasi gw semangat & kesempatan utk ngeberesin penelitian ini. dan gw berharap, Allah memberikan ending terbaik disini. amiin yaa Rahman…

ada yg bilang, kalo “syukur dan sabar” sama “nikmat dan ujian” itu bedanya tipis. knp? katanya, “syukur itu cuma bentuk lain dari sabar dalam menghadapai ujian berupa nikmat” dan “sabar itu cuma bentuk lain dari syukur dalam menghadapai nikmat berupa ujian” (by SAF).
Wallahu’alam.. semoga kita masih bisa mensyukuri hari ini, jam ini, menit ini, detik ini,.. dinatara gelimang kasih Sang Maha Kasih yang tak pernah putus. insyaAllah

“keen on fighting!” buat yg masih penelitian, krn Pertolongan-Nya selalu dekat buat yg berusaha & berdo’a.

*ditengah kesedihan melihat nila2 yg bergelimpangan krn jamur.. yaa Robb sembuhkanlah mereka T.T amiin
040312

Ramadhan Mubarak

Tinggalkan komentar

”disini kubangun keyakinan itu,,

1 Komentar

kadang banyak yg nanya, “g bosen disini terus?”. kadang gw juga jawab pake senyum aje.. hufh ^_^”

ya.. dah lebih kurang 2 tahun ni bolak-balik student center ipb (ni dia pertanyaannya) heh.. ngapain si lw di SC terus??

kalo ditanya gitu, sumpah “g jg tw knp??”… tapi akhirnya gw cuma bisa ngerasain klo pilihan gw bertahan disini bener2 dari hati, keinginan yang memang terlalu kuat untuk ditolak. dan jgn ditanya lagi kenapa.., cz gw cuma bisa jawab,, “ini tanggungjawab moral,, dan dorongan hati utk tetep disini,, satu lagi KARENA DISINI GW BISA BERTEMU ANAK2 HEBAT YANG GW YAKIN NANTI BAKAL JADI BATU BATA TERBAIK PERADABAN INDONESIA DAN DUNIA.. DAN GW CUKUP UNTUK MEYAKINI ITU.. titik”….

tapi yg jelas yg gw harapin cuma agar masa2 gw disini bisa memberikan sebanyak2 manfaat yg gw bisa,, dan tentunya semoga Allah ridho,,  not more,, insyaAllah

sman^^9at SC’erz!!!

(rf-sebuah renungan-di sc terbaik kami-101010)

“Mungkin anda peserta atau bahkan pengisi, …” b(^_^)d

2 Komentar

Mungkin anda peserta atau bahkan pengisi, atau sekedar orang yang pernah menemui fenomena seperti ini, di zaman ini:

“… ketika beliau keluar tiba-tiba beliau dapati para sahabat duduk dalam halaqah (lingkaran). Beliau bertanya, “Apakah yang mendorong kalian duduk seperti ini?”. Mereka menjawab, “Kami duduk berdzikir dan memuji Allah atas hidayah yang Allah berikan sehingga kami memeluk Islam.”

Maka Rasulullah bertanya, “Demi Allah, kalian tidak duduk melainkan untuk itu?” Mereka menjawab, “Demi Allah, kami tidak duduk kecuali untuk itu.” Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya saya bertanya bukan karena ragu-ragu, tetapi Jibril datang kepadaku memberitahukan bahwa Allah membanggakan kalian di depan para malaikat.” (Potongan HR. Muslim, dari Abu Sa’id, dari Mu’awiyah)

Di tempat inilah disambung keteladanan sejarah. Di forum seperti yang dicontohkan para sahabat, para ghuraba’ (orang-orang terasing) masa kini mewujudkan sabda Nabi bahwa mu’min itu cermin mu’min yang lain. Mereka saling bercermin diri, tentang perkembangan tilawah Al Qur’an dan hafalannya, tentang sholat malamnya, dan tentang puasa sunnah-nya. Semangatnya tergugah mendengar yang lain menyalip amal-amalnya. Ia jadi malu mendapati dirinya tak bisa mengatur waktu.

Mereka saling menyebutkan kabar gembira sampai semua merasa bahagia mendengar salah seorang sahabat mendapat nilai A. Mereka saling berbagi agar masalah tak terasa sendiri dihadapi. Ada yang bercerita tentang amanah-amanah dawahnya yang katanya semakin mengasyikkan atau semakin menantang. Yang berkeluasan rezki membawakan pisang goreng yang tadi pagi dibuat bundanya, atau mangga yang dipetik dari halaman rumahnya.

Sesekali diganti setting forumnya, dengan menginap agar bisa lebih panjang bercengkrama. Lalu mereka dirikan qiyamullail. Pernah juga mereka lakukan wisata. Mereka bertemu di tempat rekreasi yang sepi, mengingat Ilahi dan mengagumi kebesaran ciptaanNya. Mereka berdiskusi disaksikan air terjun, punggung bukit bercemara, hutan berlembah yang menawan, di bawah rembulan terang dan kabut gunung, atau pasir pantai memutih diterpa gelombang.

Tentu saja yang jauh lebih utama, mereka mengingat Allah dalam sebuah kumpulan, agar Allah mengingat mereka dalam kumpulan yang lebih baik. Mereka membaca kitabullah, mereka kupas isinya, mereka dapati bahwa Al Qur’an menyuruh mereka bersaudara dalam cinta dan mentauhidkan Allah SWT. Tidak ada tekad ketika bubar dan saling bersalaman mendo’akan, selain agar yang mereka bahas menjadi amal nyata.

“Tidaklah suatu kaum berjumpa di suatu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitabullah, dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi majelisnya, malaikat menaungi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka dengan bangga di depan malaikat-malaikat yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Di sana kita bisa jumpai wajah saudara yang jenaka, yang pendiam, dan yang tampak lelah karena banyak amanah. Tapi Subhanallah… ini adalah cahaya yang bergetar di antara mereka. Ia bergetar untuk menjadi refleksi jiwa, percepatan perbaikan diri dan perbaikan ummat dalam medium atmosfer cinta. Saya tak ragu lagi menyebut forum yang terkenal dengan kata liqa’at (pertemuan) ini, sebagai Getar Cahaya di Atmosfer Cinta.

Bahkan suatu waktu anda yang belum pernah mengikuti forum ini tidak sengaja menemui mereka sedang ada di masjid kampus, mushalla sekolah, rumah seorang ustadz atau markaz da’wah, lalu anda bergabung dengan niat serta keperluan yang lain atau mungkin karena iseng saja, anda takkan pernah kecewa. Percayalah, anda tak kan pernah kecewa.

“… seorang Malaikat berkata, “Rabbi, di majelis itu ada orang yang bukan dari golongan mereka, hanya bertepatan ada keperluan maka datang ke majelis itu. Allah berfirman, “Mereka adalah ahli majelis yang tiada akan kecewa siapa pun yang duduk membersamainya!” (Potongan hadits Mutaffaq ’Alaih, dari Abu Hurairah, lihat Riyadhush Shalihin Bab Keutamaan Lingkaran Majelis Dzikir)

Maka demi Allah, apa yang anda tunggu? Perkenalkan diri anda pada mereka sejelas-jelasnya. Katakan, anda ingin bergabung dengan pertemuan pekanan mereka. Kalau majelis sudah terlalu sesak, lalu efektifitasnya drop, pengasuh majelis itu pasti akan mencarikan sebuah majelis lain yang indah untuk anda. Kalau di sekolah anda dan di kampus anda ada kegiatan bernama mentoring, asistensi agama Islam atau nama lainya, barangkali itu pintu lain bagi anda memasuki Getar Cahaya di Atmosfer Cinta.

Setelah itu, bisa jadi Allah akan menguji anda, mungkin dengan perasaan anda bahwa majelis ini tidak seperti yang anda harapkan. Maka bersabarlah…

“Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah 5-6)

#######

Beberapa saudara mengeluh mendapati saudaranya yang lain berubah setelah pindah ke lain kota. Ada gambaran, betapa sulitnya menjaga istiqamah ketika jauh dari lingkungan iman semula. Apa yang diceritakan Hanzhalah bin Ar Rabi’, bisa menjadi ‘ibrah bahwa pertemuan sesaat demi sesaat dalam majelis ini adalah sarana penjaga konsistensi dan sikap istiqamah (yang kadang-kadang tanpa perlu kita sadari).

Ketika Abu Bakar berkunjung dan menanyakan kabarnya, Hanzhalah pun menjawab, “Hanzhalah telah menjadi munafik!”. Terperanjat Abu Bakar lalu ia berkata, “Subhanallah, apa yang engkau ucapkan?”. Kata Hanzhalah, “Kita sering bersama Rasulullah, beliau mengingatkan kita tentang surga dan neraka seolah-olah kita melihatnya dengan mata kepala. Namun, ketika kita keluar dari sisi Rasulullah, bercengkrama dengan anak-anak serta sibuk dengan pekerjaan, kita pun banyak melupakannya.”

“Demi Allah, kami pun merasakan hal yang seperti itu!”, sahut Abu Bakar membenarkan. Tak ada curhat yang lebih indah daripada curhat para sahabat. Ya, mereka pun kembali kepada Murabbinya, Rasulullah Mushthafa. Dan beliau pun menentramkan hati para binaannya.

“… demi Dzat yang jiwaku dalam genggamanNya. Seandainya kalian selalu dalam keadaan sebagimana kalian ada di sisiku dan dalam berdzikir, niscaya malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat-tempat tidur, dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi sesaat demi sesaat, wahai Hanzhalah! Sesaat demi sesaat wahai Hanzhalah, sesaat demi sesaat!” (HR. Muslim dalam Shahihnya, dari Hanzhalah)

Akal sehat para peserta liqa’at menuntut mereka untuk menghayati bahwa majelis ini adalah bagian paling “asasi” dalam hidup mereka. Ada waktu yang harus diprioritaskan untuknya lebih dari aktivitas lainnya. Kaidahnya jelas: “kalau ia (Rasulullah) tak bersama mereka (binaannya), ia takkan bersama siapa-siapa; kalau mereka tak bersamanya, mereka pasti bersama dengan orang selain dia.”

Terkadang kita menjadi bagian yang tak merasakan nikmatnya majelis kebersamaan ini. Padahal, orang lain akan melihat kita berubah dan semakin buruk (bahasa saya: aneh) saat kita berhenti menghadirinya untuk suatu waktu yang cukup lama. Memang, ia hanya sepekan sekali. Tapi bagaimanapun kita tahu, majelis ini adalah majelis ‘ilmu dan dzikir yang tak berhenti sampai bubarnya lingkaran. “Karena ketika mereka menutup pertemuan dan pergi untuk keperluan masing-masing, lingkaran itu hanya melebar. Ia melebar seluas aktivitas mereka.”

Wallahu’alam

<[( Salinan dari sebuah penjelasan nan menawan Ust. Salim A. Fillah )]>

Older Entries

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.